Monday, October 20, 2008

Buku: Bab-1 (sambungan) - Perusahaan EPC

Ditulis pada Minggu, Oktober 19, 2008 oleh Donny
Berikut ini adalah sambungan dari Summary Bab 1: Sistim Pemipaan dan Perusahaan EPC. Pada postingan sebelumnya sudah dibahas tentang Sistim Pemipaan dalam dunia industri, maka selanjutnya akan diteruskan dengan membahas tentang perusahaan yang melakukan disain dari sistim pemipaan tersebut, yaitu Perusahaan EPC (Engineering Procurement Construction ).
============================================================================
Sistim pemipaan yang terdapat di Pabrik pengolahan minyak misalnya, atau di Pabrik Petrokimia adalah hasil disain dari sebuah tim yang bekerja pada sebuah Perusahaan Engineering.
Perusahaan Engineering yang melakukan proses disain ini dikenal dengan nama: Perusahaan Engineering Procurement dan Construction (EPC).Perusahaan EPC adalah suatu perusahaan yang bertanggung jawab dalam hal disain dari sebuah pabrik atau plant yang akan dibangun, termasuk pembelian barang-barang untuk keperluan pembangunanya, serta tak lupa membangun plant yang sudah didisain tersebut, dan setelah selesai dibangun diserahkan kepada pemilik atau Client.
Di Indonesia saat ini sudah cukup banyak berdiri Perusahaan EPC yang berpengalaman dan berkemampuan yang tidak kalah dengan Perusahaan EPC kelas dunia.
Perusahaan tersebut banyak diisi oleh tenaga insinyur yang berpengalaman dan berkualitas yang merupakan produk dari Universitas-universitas yang berada di Indonesia.
Perusahaan EPC inilah yang menjadi pemain utama di dalam proses disain sebuah Pabrik, disamping pemain penunjang lainnya, seperti vendor (penjual barang atau peralatan keperluan pembangunan Pabrik), fabricator (perusahaan pembuat peralatan equipment, pipa), dan sub-contractor lainnya.
Sesuai dengan namanya, Perusahaan EPC, maka tulang punggung dari perusahaan ini adalah tiga divisi, yaitu:
Divisi Engineering
Divisi Procurement
Divisi Construction
Disamping ketiga divisi utama diatas, maka umumnya perusahaan EPC juga mempunyai divisi-divisi lainnya yang bersifat pendukung seperti:
Divisi Project Control (Project Control Division)
Divisi Quality Control dan Quality Assurance (Quality Control and Quality Assurance Divison)
Divisi Keuangan (Finance Division)
Divisi Hukum (Legal Division)
Divisi Personalia atau HRD
Divisi Informasi dan Teknologi (IT or Computer System Division)
Perusahaan EPC mempunyai sifat dan kultur yang berbeda dengan perusahaan lainnya. Hal ini lebih disebabkan karena jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan EPC tersebut. Perusahaan EPC mempunyai bisnis inti yaitu dalam hal membangun pabrik-pabrik yang berhubungan dengan dunia perminyakan, pertambangan, petrokimia, dan gas alam.
Proses pembanguan sebuah pabrik mulai dari tahap proposal, disain, sampai proses konstruksi dan penyerahan kepada pemilik pabrik adalah mempunyai jangka waktu tertentu.
Selama jangka waktu tertentu tersebut, misalnya, selama tiga tahun, maka perusahaan EPC tersebut akan mengalami kesibukan yang luar biasa. Kesibukan tersebut tentu saja akan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup banyak.
Tetapi, perusahaan EPC tidak bisa begitu saja merekrut orang untuk menjadi pegawainya dalam jumlah banyak sekaligus. Hal ini karena beban pekerjaan di EPC adalah bervariasi, dimana kesibukan di awal project belumlah begitu tinggi sehingga tidak memerlukan banyak tenaga kerja.
Kebutuhan baru akan meningkat dengan pesat ketika project sudah mulai memasuki tahapan detil disain. Pasa saat itulah, biasanya Perusahaan EPC akan melakukan perekrutan dalam jumlah yang cukup signifikan.
Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah kemungkinan perusahaan mengerjakan project lebih dari satu pada waktu yang bersamaan.
Pada saat tersebut, akan timbul permintaan yang tinggi terhadap tenaga kerja dan tentu saja dalam hal ruangan dan tempat untuk bekerja.
Sehingga akan timbul kesibukan yang luar biasa baik dari sisi perekrutan karyawan baru, penyediaan infrastruktur seperti ruangan, meja, telepon, komputer dan lain sebagainya, maupun ketika proyek sudah berjalan yang pasti saja membutuhkan penanganan dan pengaturan yang baik.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka sudah menjadi kebiasaan dalam perusahaan EPC untuk memisahkan manajemen suatu proyek dengan manajemen perusahaan secara umum, demi memudahkan dalam hal tertib administrasi perusahaan.
Dengan demikian, maka pada sebuah perusahaan EPC, dikenal ada dua struktur organisasi, yaitu sebagai berikut:
Kantor Pusat atau Home Office
Home Office pada prinsipnya berarti Kantor Pusat. Sebagaimana jamaknya Kantor Pusat, maka disini berkantornya para management perusahaan serta badan pendukung lainnya.
Ini adalah bentuk utama dari Perusahaan EPC. Dalam hal sifatnya, maka struktur ini adalah bersifat permanen.
Home Office terdiri dari divisi-divisi seperti disebutkan diatas. Adapun tugas utama nya adalah lebih kearah pengembangan internal perusahaan, seperti membuat dan menyiapkan rencana pengembangan personil baik berupa pemberian training didalam perusahaan maupun mengirim ke luar perusahaan.
Disamping itu, Home Office juga bertanggung jawab didalam menyiapkan dan mengembangkan standard-standard atau prosedur-prosedur teknis yang nantinya akan digunakan untuk keperluan proyek.
Pada zaman sekarang ini, dimana semakin ketatnya persaingan untuk mendapatkan Proyek, maka sudah ada kecenderungan untuk memaksimalkan dan pendayagunaan personil yang berada di Home Office untuk membantu beberapa project Task Force sekaligus.
Ini adalah suatu upaya yang kreatif karena mampu menekan biaya operasional, baik pada level perusahaan maupun pada level project, yang pada giliran nantinya, dari penghematan yang didapat, akan memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahterahan karyawan.
Kantor Proyek atau Project Office
Project Office atau dalam bahasa Indonesianya adalah Kantor Proyek, mempunyai sifat yang temporer atau sementara sesuai dengan kebutuhan sebuah proyek atau lamanya proyek tersebut berlangsung.
Project Office, atau juga dikenal dengan nama Project Task Force, mempunyai divisi-divisi yang sama dengan Home Office, tapi dengan tujuan yang berbeda.
Tujuan utama dari Project Task Force adalah bagaimana caranya agar tim yang tergabung diadalamnya mampu menyelesaikan sebuah proyek sesuai pada waktu yang telah ditetapkan dan sesuai dengan dana yang telah dianggarkan, dengan tetap menjaga mutu dan kualitas pekerjaan yang sesuai dengan code dan standard internasional yang berlaku.
Project Office tidak mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam hal menyiapkan program training bagi karyawan.
Bahkan, dalam pelaksanaanya, Project Office akan meminta kepada Home Office untuk menyiapkan dan memberikan karyawan yang diharapkan sudah mampu untuk menjalankan tugas utama dari Proejct Office tadi.
Dalam hal standard dan procedure, Project Office akan menggunakan standard dan procedure yang sudah disiapkan oleh Home Office, dan kemudian melakukan perubahan seperlunya sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan dari project yang sedang dijalankan.
Dengan demikian dapat kita lihat sekarang perbedaan dalam hal fungsi dan tugas antara struktur organisasi Home Office dengan struktur organisasi Project Office.
Kalau melihat dari sisi kedudukan, maka Organisasi Home Office mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari Organisasi Project Office. Bahkan, Project Office dibentuk atas persetujuan dan keputusan Home Office, termasuk didalam memilih personal yang akan bergabung dalam satu Project Office.
Pada perusahaan EPC yang besar, maka bisa saja ditemukan adanya dua atau tiga Project Office yang berbeda, dan yang berkantor di satu gedung yang sama
Project Office dipimpin oleh seorang Project Manager. Project Manager ini dipilih dan diangkat oleh Direktur di Home Office. Ada kalanya juga dibentuk suatu posisi yang bernama Project Director atau Direktur Proyek.
Project Director ini mempunyai fungsi sebagai perpanjangan tangan Direktur di Project tersebut, yang bertugas mengawasi jalannya Project.
Sehingga bisa dimengerti bahwa Project Manager mengirimkan laporan kepada Project Director mengenai perkembangan Projectnya.
Pada Perusahaan EPC yang tidak membentuk atau tidak melantik seseorang untuk menjadi Project Director, maka Project Manager memberikan laporan perkembangan Project langsung kepada Direktur.
Demikian juga divisi-divisi dan departemen-departemen dibawah Project Manager, juga memberikan laporannya kepada manager mereka masing-masing di Home Office, disamping juga memberikan laporan kepada manager mereka di Project Office.
Engineering
Dalam perusahaan EPC, divisi Engineering adalah sebuah divisi yang memegang peranan sangat penting didalam keberhasilan dan kemajuan perusahaan. Divisi Engineering adalah divisi yang menghasilkan produk berupa disain dan perhitungan atau kalkulasi atas sebuah Proyek Petrokimia, LNG atau proyek lainnya, untuk kemudian dilakukan pembangunan fisiknya.
Disamping meghasilkan dokumen dalam bentuk gambar dan perhitungan, Divisi Engineering juga menghasilkan produk berupa dokumen yang berisi perintah pembelian barang-barang keperluan pembangunan Pabrik yang direncanakan atau juga disebut Material Requisition.
Barang-barang tersebut bisa berupa barang-barang material pipa dan komponennya, mesin-mesin atau machinery, pressure vessel, eletrical, instrument, steel structure dan lain sebagainya yang berhubungan dengan proses pembangunan proyek yang sedang dikerjakan dan perintah pembelian tersebut akan diberikan kepada Divisi Procurement.
Untuk Home Office, Divisi Engineering dikepalai oleh seorang Engineering Manager. Sedangkan untuk Project Office, dikepalai oleh Project Engineering Manager.
Seorang Project Engineering Manager biasanya dipilih oleh Home Office Engineering Manager, sehingga wajar saja dia mesti memberikan laporan perkembangan tugasnya kepada Home Office Engineering Manager, dan ke Project Manager.
Didalam organisasi Divisi Engineering biasanya terdiri atas beberapa Engineering grup yang juga sering disebut dengan Engineering Discipline.
Sekali lagi, untuk Home Office, setiap Disiplin Engineering akan dikepalai oleh seorang Head Department. Sedangkan untuk Project Office, setiap disiplin Engineering akan dikepalai oleh seorang Lead Engineer, dengan mempunyai beberapa orang Engineer dan Designer, tergantung kepada besarnya Project yang sedang dikerjakan.
Sebagai contoh, Process Engineering akan mempunyai seorang Head Process Engineering Department untuk Home Office, dan akan mempunyai seorang Lead Project Process Engineer, dengan dibantu oleh beberapa orang Process Engineer dan CAD Drafter, sesuai dan tergantung kepada besarnya sebuah Project.
Secara organisasi, Divisi Engineering terdari atas beberapa Disiplin Engineering, yaitu:
Process Engineering:Departemen Process Engineering dipimpin oleh seorang Head Department, untuk Home Office. Sedangkan untuk Project Office, biasanya sang Head Department akan menunjuk salah seorang Process Engineer yang sudah berpengalaman untuk menjadi Lead Process Engineer. Dibeberapa perusahaan juga disebut dengan nama Job Leader.
Lead Process Engineer melaporkan hasil pekerjaanya kepada Project Engineering Manager, dismaping juga secara berkala melakukan komunikasi dan diskusi dengan Head Department Process Engineering di Home Office.
Process Engineering biasanya merupakan grup yang keberadaanya lebih awal dibandingkan dengan disiplin lain.
Hal ini karena Lead Process engineer perlu mempelajari terlebih dahulu persyaratan-persyaratan dari process yang diperlukan pada Plant yang akan dikerjakan tersebut untuk kemudian dituangkan dalam bentuk yang lebih konkret, seperti menampilkan dalam bentuk Process Flow Diagram (PFD), Utility Flow Diagram (UFD) dan Piping and Instrumentation Diagram (P&ID), yang akan diperlukan oleh grup atau disiplin lainnya.Didalam menyiapkan PFD, UFD, dan P&ID, Process Engineer akan menggunakan data dari Client atau dari pemegang Lisensi sebuah process dari Plant yang akan dibangun, yang biasanya didapat dan tercantum didalam dokumen project.Dokumen dalam bentuk gambar dan diagram tadi adalah bagian dari Deliverable nya Process Engineering Department.
Selain itu, Process Engineer juga akan menghasilkan dokumen yang akan banyak digunakan oleh grup lain seperti Static Equipment grup dalam bentuk data sheet, serta untuk Instrumentasi grup, juga dalam bentuk data sheet untuk barang-barang Instrument yang kritis dan penting.
Process grup juga sangat erat hubungannya dengan Piping grup, karena Process grup sangat mentukan dalam hal penentuan ukuran pipa dan memberikan saran dalam hal pemilihan material pipa.
Civil Engineering:Untuk Home Office, Departemen Civil Engineering dipimpin oleh seorang Head Department, sedangkan untuk Project Office dipimpin oleh Lead Civil Engineer.Penggabungan antara Civil dan Structural Engineering kadang dilakukan oleh beberapa perusahaan tergantung kepada kebiasaan suatu perusahaan tersebut. Namun dalam prakteknya, selalu saja seorang Lead Civil Engineer atau Job Leader akan mempunyai beberapa sub-grup, diantaranya Structural yang akan membantu pekerjaanya.
Sama halnya dengan Lead Process Egnieer, Lead Civil Engineer juga melaporkan hasil pekerjaanya kepada Project Engineering Manager, sambil tetap melakukan komunikasi dengan Head Department Civil Engineering di Home Office.
Secara umum, Civil Engineering ini bertanggung jawab akan semua disain, gambar dan kalkulasi mulai dari pondasi bangunan Plant secara keseluruhan, baik pondasi dari Pipe Rack, pondasi equipment, dan pondasi untuk bangunan struktur lainnya, sampai ke pembangunan struktur bangunan, baik yang ada diatas tanah (aboveground) maupun di bawah tanah (underground).
Dalam menjalankan tugasnya, satu hal yang perlu dicatat dari grup Civil Engineering ini adalah bahwa mereka mempunyai ketergantungan yang sangat besar terhadap disiplin lain, utamanya dalam hal mendapatkan inputan mengenai lokasi, ukuran, bentuk dan juga serta beban yang bekerja pada lokasi tersebut.
Piping grup adalah salah satu mitra kerja utama dari Civil grup ini karena begitu banyaknya persinggungan yang akan terjadi diantara mereka dan begitu dekatnya hubungan yang akan mempengaruhi suskes tidaknya sebuah pekerjaan pembangunan plant.
Salah satu tugas penting lainnya dari Civil grup adalah menyiapkan gambar rincian termasuk perhitungan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah, paving, dan juga melakukan perencanaan sistem drainasi dari project.
Static Equipment/Rotating Machinery:Departemen Mechanical Engineering adalah departemen yang bertanggung jawab atas pemilihan, disain dan kalkulasi serta fabrikasi dari equipment seperti pompa, compressors, turbine, pressure vessel, Tank, serta semua jenis equipment yang digunakan dan diperlukan untuk project.
Seperti halnya disiplin lainnya, Mechanical Engineering grup juga dipimpin oleh Head Departmen untuk Home Office, dan seorang Lead Mechanical Engineering untuk Project Office.
Dalam pelaksaan tugasnya, Lead Mechanical Engineer akan dibantu oleh beberapa tenaga specialis seperti:
 Specialist Compressors Specialist Heat Transfer Equipment Specialist Boiler dan Fired Heater Specialist Water Treatment Dan Specialist lainnya.
Berbekal data sheet yang berisi data yang penting seperti kriteria performance untuk setiap equipment, dan selanjutnya akan dibuat spesifikasi untuk setiap equipment tersebut.
Setelah itu, mereka akan menghubungi beberapa vendor yang sudah terdaftar dalam daftar vendor yang disetujui oleh client ataupun vendor yang memang mereka sudah sering bekerja sama, untuk menentukan disain akhir sebuah equipment.Selanjutnya, Lead Mechanical Engineer, biasanya akan memilih vendor yang paling murah dan tentu saja memenuhi persyaratan spesifikasi.
Didalam melakukan tugasnya, Mechanical Engineer bekerja sama secara erat dengan grup Piping dan Structural demi tercapainya suatu solusi yang tepat dan murah bagi project.
Piping Engineering:Departemen Piping Engineering adalah departemen yang paling banyak anggotanya didalam sebuah organisasi Perusahaan EPC. Hal ini karena besar dan luasnya ruang lingkup pekerjaan atau Scope of Work dari Piping Engineering ini lah yang membuat banyaknya anggota dari Departemen ini.Untuk Home Office, Departemen Piping Engineering dipimpin oleh Head Departement, sedngkan untuk Project Office akan ditunjuk salah seorang dari anggota Piping Engineer yang berpengalaman untuk menjadi Lead Piping Engineer.
Karena luas nya skop pekerjaan dari Piping Engineering, maka didalam pekerjaannya seorang Lead Piping Engineer akan dibantu oleh paling tidak empat orang Unit Lead Engineer atau juga Area Lead Engineer.
Keempat Unit Lead Engineer tersebut adalah:
 Unit Lead Piping Material Engineer Unit Lead Piping Design Engineer Unit Lead Piping Stress Engineer dan Pipe Support Unit Lead Piping Material Control
Namun perlu dicatat bahwa pengkategorian diatas adalah pengkategorian yang umum berlaku. Namun bisa saja pengkategorian tersebut akan berbeda untuk setiap perusahaan EPC, tergantung kepada besarnya project yang sedang dilaksanakan dan juga tergantung kepada type Perusahaan EPC tersebut.
Tapi pada prinsipnya tiga unit atau area pekerjaan tersebut adalah sangat mutlak diperlukan, hanya saja apakah harus dipimpin oleh tiga orang Unit Leader atau tidak, hal itu tidak lah perlu dipermasalahkan.
Adapun tugas dan tanggung jawab dari masing-masing Area atau Unit Lead Engineer serta apa ruang lingkup pekerjaan Piping Engineering akan kita bahas lebih detil pada pembahasan berikutnya.
Electrical Engineering:Departemen Electrical Engineering, seperti halnya departemen lainnya, untuk Home Office akan dipimpin oleh seorang Head Departemen, sedangkan untuk Project Office akan dipimpin oleh Lead Electrical Engineer.
Tugas dan tanggung jawab seorang Lead Electrical Engineer adalah memastikan bahwa segala macam keperluan dan kebutuhan project akan tenaga listrik, lampu dan keperluan alat komunikasi dapat tersedia sesuai dengan spesifikasi project dan memenuhi code dan standard yang sudah dikenal dan diakui.
Instrumentasi/Control System Engineering
Departemen Instrumentasi atau ada juga disebut Departemen Control System Engineering dikepalai oleh Head Department,untuk Home Office.
Sedangkan tim Instrumentasi di Proejct Office akan dipimpin oleh seorang Lead Instrument Engineer. Tugas utamanya adalah menyiapkan layout dari setiap Control Room yang diperlukan untuk project tersebut, lengkap dengan jenis software dan hardware yang dibutuhkan.Disamping itu Instrument grup juga menyiapkan semua in-line dan on-line Instrument seperti Pressure Gauge, Pressure Transmitter, Temperature Indicator, dan indicator local lainnya.
Departemen Pendukung:
Pada beberapa perusahaan EPC, juga terdapat Departemen Arsitektur. Tapi khusus pada project Petrokimia dan project-project lainnya, hampir bisa dikatakan peran dan ruang lingkup kerja dari Departemen Arsitektur adalah sangat kecil, kalaupun ada hanyalah untuk perencanaan gedung-gedung yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan proses pabrik atau project tersebut.
Grup lainnya yang juga cukup penting adalah Technical Document Control (TDC) grup.
Seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama bahwa didalam sebuah Project Pembangunan Kilang Minya, atau Pupuk Urea, maka akan banyak sekali dibuat dan dihasilkan dokumen-dokumen seperti project spesifikasi, data sheet, gambar-gambar, baik gambar dari masing-masing departemen maupun gambar dari vendor (vendor drawings).
Semua dokumen tersebut yang harus disitribusikan internal Engineering maupun didistribusikan ke Divisi lain seperti Procurement, Construction, Quality Control, harus lah melalui sebuah grup yang disebut dengan Technical Document Control ini.
TDC ini dianggap sebagai pintu gerbang keluar masuknya dokument Engineering. TDC lah yang mengontrol pendistribusion dokument ke seluruh departemen di Engineering maupun ke Divisi lain, sekaligus juga bertanggung jawab akan penyimpanan dokumen untuk keperluan konstruksi nantinya dilapangan maupun untuk dokumentasi project dan perusahaan.
Secara organisasi Project, grup Technical Document Control ini berada dibawah pengawasan Engineering Manager.
Hal ini adalah wajar mengingat hampir seluruh dokumen yang ditangani oleh grup TDC ini adalah merupakan produk dari Divisi Engineering, disamping dokumen dari Vendor yang juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tugas dan tanggung jawab Divisi Engineering.
Dari gambaran diatas dapat dlihat secara umum nama-nama departemen yang biasa terdapat di Divisi Engineering sebuah perusahaan EPC.
Walaupun demikian, masih ada beberapa divisi lain yang juga berada didalam struktur perusahaan EPC dan ikut terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung didalam menjalankan sebuah Project.
Grup-grup ini disebut juga dengan grup non-engineering, yang dalam pembahasan kali ini hanya disebutkan secara sekilas saja, mulai dari berikut ini.
ProcurementIni adalah divisi yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam hal pembelian barang-barang, baik barang yang sudah didisain, dihitung dan dituliskan oleh Divisi Engineering dalam dokumen pembelian.Dalam menjalankan tugasnya, Divisi Procurement selalu berpijak kepada upaya untuk mendapatkan barang-barang yang berkualitas, harga murah dan mempunyai jangka waktu yang cukup untuk dihantarkan ke lapangan atau Site.
Divisi Procurement ini terdiri atas beberapa departemen seperti Purchasing, Expediting, Trafffic dan lainnya.
ConstructionDivisi ini, sesuai dengan namanya, adalah divisi yang menjadi andalan didalam menterjemahkan tarikan garis dan gambar dari sebuah disain dan kalkulasi kedalam bentuk yang nyata dari sisi fisik bangunan.
Divisi ini termasuk mempunyai banyak anggota, dan biasanya mulai beroperasi ketika tahapan Engineering sudah atau sedang berjalan.
Project Control
Divisi ini mempunyai tugas mengontrol jalannya Project, utamanya adalah dalam hal skedul dan dari sisi keuangan, agar sesuai dengan kontrak dan budget yang sudah ditanda tangani dan disetujui oleh Client atau pemilik project.
Dalam divisi Project Control ini terdapat dua grup, yaitu Schedule dan Cost Control.
Quality Control
Disain dan kalkulasi yang dilakukan oleh Engineering dan pembelian barang oleh Procurement haruslah sesuai dengan kaidah mutu yang sesuai dengan standard yang berlaku dan telah disetujui penggunaanya oleh Client.
Untuk menjaga agar proses disain, kalkulasi, dan pembelian barang serta termasuk juga proses konstruksinya, maka divisi Quality Control akan melakukan pemeriksaan dalam semua aspek yang besinggungan dengan quality.
Tahapan pekerjaan mereka umumnya sudah dimulai pada tahapan Engineering sampai pada tahapan Construction. Bahkan, ketika akan dilakukan pembelian equipment yang bersifat critical, QC Engineer sudah terlbat sejak awal pemilihan, testing sampai pada saat memutuskan apakah equipment tersebut sudah layak untuk di kirim ke lapangan (site).
Untuk beberapa Project tertentu, disamping mempunyai Quality Control grup, biasanya juga ada grup yang dikenal dengan nama Quality Assurance grup. Grup ini secara organisasi Home Office satu atap dengan Quality Control.
Hanya saja , pada Project Office, Quality Assurance sering ditempatkan terpisah dari Quality Control.
Tugas utamanya adalah meyakinkan bahwa segenap Project Tim telah bekerja dengan benar dengan menggunakan standard quality yang telah ditetapkan.
Untuk itu, secara berkala dilakukan audit atau pemeriksaan terhadap setiap Departemen dan Divisi untuk mengecek dan mengetahui sejauh mana aplikasi dari Standard Mutu telah diterapkan didalam melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Pada prinsipnya, Quality Assurance grup adalah menjamin kepada Client bahwa Project yang sedang dilakuka proses Engineering, Procurement, dan Construction adalah dilakukan sesuai dengan standard mutu yang baku dan diakui oleh dunia Internasional.
Selain keempat divisi diatas, masih ada beberapa divisi lainnya dalam suatu Perusahaan EPC yang bersifat menujang dan membantu pelaksaan dan jalannya perusahaan.
Beberapa Divisi lainnya tersebut adalah seperti Divisi Keuangan (Finance Division), Divisi Hukum (Legal Division) dan Divisi Pengembangan Bisnis (Bisnis Development Division), Divisi HRD (Human Resources Development Division), dan divisi lainnya, yang tidak akan disampaikan disini.
DIarsipkan di bawah:
Buku PPSAdCII

Buku PPSAdCII: Summary Bab 2: Piping Engineering

Ditulis pada Minggu, Oktober 19, 2008 oleh Donny
Piping Engineering sebagai suatu disiplin ilmu belumlah banyak dikenal dikalangan masyarakat luas. Piping Engineering hanya dikenal pada lingkungan tertentu, utamanya pada lingkungan orang-orang yang bekerja dibidang engineering dan orang-orang yang dalam pekerjaannya mempunyai hubungan dengan Perusahaan Engineering, Procurement, Construction (EPC).
Di kalangan akademisi juga kehadiran Piping Engineering dalam perbendaharaan kata mereka belumlah seakrab, misalnya, Mechanical Engineering (ME).
Salah satu penyebab kurang dikenalnya bidang ini dikalangan tersebut dipercaya adalah karena Piping Engineering bukanlah termasuk satu diantara 5 cabang utama dari Disiplin Engineering, yaitu:
 Teknik Penerbangan (Aerospace Engineering) Teknik Kimia (Chemical Engineering) Teknik Sipil (Civil Engineering) Teknik Elektro (Elektrical Engineering) Teknik Mesin (Mechanical Engineering)Menurut informasi yang disampaikan oleh J. O. Pennock, pengarang buku Piping Engineering Leadership for Pocess Plant Projects terbitan Gulf Professional Publishing, hanya satu Universitas di Amerika Serikat saat ini yang mempunyai program S1 (BSc) yang diakui dan terakreditasi, dibidang Process Plant Piping Design Engineering.
Jadi memang suatu hal yang wajar jika tidak begitu banyak orang, baik dari masyarakat umum maupun dari kalangan terpelajar, yang mengenal suatu disiplin ilmu yang bernama Piping Engineering ini.
Sehingga, pada bagian pertama ini perlu sekali rasanya saya menjelaskan terlebih dahulu tentang Piping Engineering, atau jika diterjemahkan secara bebas kedalam bahasa Indonesia adalah Teknik Pemipaan.
Kata “Piping”, adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris, yang jika kita lihat di kamus Bahasa Inggris Merriem-Webster mempunyai arti sebagai berikut:
A quantity or system of pipes.
Atau dalam terjemahan bebasnya berarti suatu sistem yang terdiri dari sejumlah pipa atau kumpulan pipa.
Sedangkan pipa, secara definisi, adalah suatu alat yang berfungsi untuk memindahkan atau mengalirkan suatu fluida baik berupa cairan, gas maupun uap, dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Selanjutnya, Engineering, empunyai arti sebagai suatu disiplin ilmu dan profesi yang mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan menggunakan hukum dan sumber alam didalam usaha untuk membuat atau merancang sesuatu yang berguna bagi umat manusia.
Sehingga dengan demikian Piping Engineering, jika diartikan secara bebas akan mempunyai arti sebagai berikut:
“Suatu disiplin ilmu yang mengaplikasikan ilmu pengetahuan tentang pemipaan dalam upaya untuk mendisain, menganalisa, membuat suatu sistem pemipaan yang akan menghantarkan suatu jenis fluida, baik gas, air, ataupun uap dari suatu tempat ke tempat lain, yang pada akhirnya akan berguna bagi kehidupan umat manusia”.
Departemen Piping Engineering
Departemen Piping Engineering, seperti sudah dikemukakan secara sekilas pada Bab sebelumnya, adalah departement yang paling besar, dari sisi jumlah personil dan konsekwensinya tentu saja dalam hal pemakaian ruangan, dalam sebuah Perusahaan EPC.
Hal ini karena ruang lingkup pekerjaan dari Piping Engineering memang sangatlah luas sehingga dengan sendirinya akan membutuhkan banyak sekali tenaga kerja.
Belum lagi kalau kita lihat peralatan yang digunakan oleh setiap Piping personel, seperti komputer untuk disain Piping secara 3D, meja besar untuk menempatkan gambar referensi, yang dengan sendirinya membutuhkan ruangan cukup luas.
Secara organisasi, baik untuk keperluan Home Office ataupun untuk keperluan Project Office, Departemen Piping Engineering terdiri atas beberapa unit grup, yaitu Piping Material Engineering grup, Piping Design grup, Piping Material Control grup dan Piping Stress Engineering grup.
Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa Piping Engineering terdiri atas empat subgrup, yaitu:
 Piping Material Enginering Piping Design Piping Material Control Piping Stress Engineering
Masing-masing sub-grup tersebut akan dipimpin oleh seorang Unit Leader. Hal tersebut memang akan tergantung kepada besar atau kecilnya Project yang sedang dikerjakan.
Jika Projectnya besar, maka dipandang perlu untuk menugaskan seseorang untuk menjadi Unit Lead dari setiap sub-grup tersebut.
Lead Piping Engineer atau juga Piping Job Leader, didalam menjalankan tugasnya pada sebuah Project akan dibantu oleh empat orang asisten atau disebut juga dalam dunia EPC dengan Unit leader, yang bertanggung jawab untuk setiap unit grup yang dia pimpin.Unit Leader tersebut masing-masing adalah:
 Unit Leader Piping Material Engineer Unit Leader Piping Design Unit Leader Piping Stress Engineer ) Unit Leader Piping Material Control
Khusus untuk Unit Leader Piping Material Control, pada beberapa perusahaan EPC, posisi ini biasanya dirangkap oleh Unit Leader Piping Material Engineer. Hal ini kurang lebih sama halnya dengan perangkapan tugas oleh Piping Stress Engineer terhadap Pipe Support Engineer.
Lead Piping Engineer
Lead Piping Engineer atau juga Piping Job Leader adalah orang yang bertanggung jawab atas segala aktifitas yang berhubungan dengan Piping didalam sebuah Project, baik dibidang teknis maupun non-teknis.
Seorang Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader haruslah mempunyai kemampuan teknis yang mumpuni dibidang Piping sekaligus mempunyai kemampuan memenej bawahannya.
Singkat kata, Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader adalah seorang Piping Expert sekaligus Piping Manager.
Dia diharapkan mampu mengerti dan memahami proses yang terjadi didalam piping system yang dia kerjakan, dan mampu mengawasi dan mengatur anak buahnya yang jumlahnya tentu akan sangat banyak.
Secara garis besar tugas dari seorang Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader adalah sebagai berikut:
Tugas pertama seorang Lead Piping Engineer sudah dimulai jauh sebelum project dimulai atau bahkan jauh sebelum project berhasil diperoleh. Lead Piping Engineer sudah harus ikut didalam setiap meeting mengenai persiapan untuk mengajukan proposal.
Mengerti dan memahami secara rinci mengenai ruang lingkup pekerjaan Piping Engineering atau Scope of Work dari Piping Engineering. Ini sangat kritis dan perlu sekali demi lancarnya pengerjaan sebuah Project.
Setelah mengerti scope of work, seorang Lead Piping Engineer harus menentukan dan membuat metode pengerjaan yang digunakan didalam mengerjakan Project tersebut, sambil kemudian menentukan jenis-jenis deliverables dari Piping Engineering.
Dari deliverables, maka Lead Piping Engineer akan menentukan berapa kebutuhan man-hour untuk pengerjaan project tersebut. Selanjutnya, dari manhour, dia akan bisa menentukan kebutuhan personel untuk tiap-tiap sub-group.
Menentukan estimasi kebutuhan material piping
Mempersiapkan Piping Engineering prosedure, seperti prosedur untuk mengeksekusi project, dan prosedur lainnya.
Mempersiapkan langkah-langkah pelaksanaan project dari sisi Piping Engineering.
Memberikan pengarahan kepada setiap anggota nya tentang scope pekerjaan dan memastikan semua anggota mengerti akan jenis dan tipe project yang akan dikerjakan.
Memilih dan menseleksi orang-orang yang akan menjadi anggota Piping Engineering.
Mengamati trend project jika ada perubahan yang mempengaruhi cost atau biaya sebuah project, termasuk mengawasi produktifitas grup.
Menghadiri rapat memimpin rapat, serta tidak lupa menyiapkan laporan mengenai status pekerjaan yang akan diberikan kepada Project Engineering Manager dan juga kepada Head Piping Departemen di Home Office.
Pada akhir project, adalah merupakan tugas Lead Piping Engineer untuk membuat laporan akhir penutup Project, termasuk didalamnya membuat laporan yang berisi pelajaran yang bisa dipetik selama pengerjaan project dan langkah-langkah antisipasi dimasa depan.
Dari garis besar tugas dan tanggung jawab seorang Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader, dapatlah dimengerti bahwa untuk menjadi seorang Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader tentulah dibutuhkan seseorang yang mempunyai pengalaman yang cukup luas di bidang per-pipa-an.
Kemudian timbul pertanyaan siapakah yang bisa menjadi Lead Piping Engineer atau Piping Job Leader ini? Dari sub-grup manakah Lead Piping Engineer ini lebih banyak berasal atau menimba pengalaman?
Untuk itu mungkin perlu kita lihat masing-masing personil yang berada disetiap grup Piping Engineering.
Pada prinsipnya, sebelum menjadi Lead Piping Engineer, seseorang seharusnya sudah berpengalaman dan bekerja dibidang Piping Engineering.
Untuk bisa bekerja di bidang Piping Engineering, maka ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi, tergantung kepada sub-grup mana yang akan dimasuki.
Misalnya, jika ingin berkecimpung dan berkiprah di sub-grup Piping Material Engineering, maka orang tersebut haruslah mempunyai pendidikan berbasis Teknik Mesin (Mechanical Engineering) atau juga Teknik Metallurgy (Metallurgy Engineering).
Hal ini dirasa perlu karena pekerjaan Piping Material Engineering menuntuk seseorang untuk mengerti tentang material pipa, proses pembuatannya, serta sifat-sifat mekanik dari material pipa dan komponen-komponen lainnya, seperti flanges, fittings, bolt, nut, dan Valves.
Sedangkan untuk menjadi seorang Piping Stress Engineer maka sangat dianjurkan untuk mempunyai latar belakan pendidikan Teknik Mesin (Mechanical Engineering).
Hal ini juga karena sifat pekerjaan di Stress Analysis adalah sangat meminta dasar yang kuat dibidang mekanika teknik da mekanika fluida, disamping juga memahami masalah metalurgi dan ilmu logam.
Hal-hal dasar ilmu pengetahuan tersebut kebanyakan hanya didapat oleh lulusan dari Teknik Mesin, walaupun bukan berarti lulusan dari jurusan lain tidak bisa menjadi Piping Stress Enigneer, hanya saja mungkin akan membutuhkan usaha yang lebih keras.
Sementara itu, Piping Design adalah sebuah grup yang agak berbeda dengan kedua grup sebelumnya. Perbedaanya adalah dalam hal sifat pekerjaan yang dilakukan setiap harinya tidaklah banyak bersinggungan dengan hal-hal yang memerlukan perhitungan dan perencanaan material atau perhitungan kekuatan suatu material.
Sebagaimana nama yang disandangnya, yaitu Piping Design, maka pekerjaanya adalah membuat layout dari suatu piping system. Harus diakui bahwa ilmu membuat layout piping system bukanlah sebuah ilmu yang dipelajari dimasa perkuliahan.
Hampir tidak ada Universitas di dunia ini yang mempunyai jurusan Piping Design Engineering. Dikatakan hampir, karena ternyata ada satu Univeristas di Amerika Serikat yang mempunyai jurusan Process Plant Piping Engineering dengan program S1 nya selama 4 tahun.
Selama ini, para Piping Designer kebanyakan berasal dari pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas atau juga Sekolah Menegah Kejuruan dan kemudian mendapatkan pendidikan tambahan dalam hal drafting.
Dengan berbekal pendidikan drafting tersebut, kemudian mereka memasuki dunia Piping Engineering, berkesan dengan dunia piping, sehingga mereka terus bekerja selama bertahun-tahun, untuk kemudian menjadi sangat ahli dibidangnya.
Dalam pengalaman saya bergaul dengan Piping Designer, hampir seluruhnya mempunyai latar belakang pendidikan dan perjalanan karir yang sama, yaitu dari sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan, kemduian mengikuti kursus dan kemudian bekerja sambil belajar.
Namun perlu diingat bahwa untuk menjadi seorang Piping Designer tidak harus berpendidikan sekolah menengah atas, juga tidak tertutup kepada lulusan dari jurusan lain dapat berkarir sebagai piping designer.
Pada saat ini sudah banyak lulusan perguruan tinggi dibidang teknik yang berminat memasuki dunia piping design.
Salah satu jurusan yang mulai menyemarakan dunia piping design adalah para lulusan dari jurusan teknik arsitektur. Hal ini mungkin bisa dimengerti karena ada kemiripan dalam hal disain dan perencanaan.
Dengan demikian, kalau kita kembali ke pertanyaan awal, siapa yang lebih pantas untuk menjadi Lead Piping Engineer ? Jawaban singkatnya adalah bisa dari ketiga grup tadi, yaitu dari grup Piping Material Engineering, grup Piping Design dan dari grup Piping Stress Engineering.
Hanya saja, jika melihat sejarah dan fakta selama saya bekarir di dunia Piping Engineering, hampir semua Lead Piping Engineer berasal dari grup Piping Design.
Namun, perkembangan dunia EPC saat ini sepertinya mulai memberikan kesempatan kepada grup lain untuk menjadi LPE, seperti dari Piping Material Engineering grup dan dari Piping Stress Engineering grup.
Semuanya tentu berdasarkan pertimbangan yang matang oleh Piping Head Departemen perusaaan bersangkutan.
Lebih detail tentang tugas dan fungsi dari bagian lain dalam PIping Engineering dapat dibaca selengkapnya pada buku tersebut.
Piping Code dan Standard
Code dan Standard adalah ungkapan yang sudah sangat akrab dilingkungan para Engineer yang bekerja di bidang Piping Engineering khususnya, dan secara lebih luas dan umum, di dunia Engineering.
Secara definisi, Standard adalah sebuah definisi teknis sekaligus petunjuk yang ditujukan kepada designer, manufaturer, operator atau pengguna sebuah peralatan.
Sedangkan Code adalah sebuah standard yang sudah diakui oleh badan pemerintah dan disahkan penggunaanya lewat undang-undang.
Code dan Standard pada umumnya berisi tentang persyaratan minimum yang harus dilakukan demi tercapainya sebuah konstruksi yang aman (safe), dengan tujuan mengedepankan keselamatan dan kepentingan masyarakat umum.
Dalam mencapai tujuan tersebut, maka Code dan Standard memberikan definisi dan petunjuk persyaratan tentang material, disain, fabrikasi, dan inspeksi, yang jika tidak dilakukan akan meningkatkan timbulnya potensi bahaya pada saat sebuah system dioperasikan.
Disamping memberikan petunjuk, kadang sebagai tambahannya, Code dan Standard juga mencantumkan larangan-larangan dan peringatan-peringatan terhadap kemungkinan dari sebuah disain yang tidak aman.
Sejujurnya saja, kondisi dimana adanya disain yang sempurna, material yang sangat bagus dengan metode fabrikasi yang tiada cacat adalah jarang sekali bisa terjadi didunia nyata.
Tapi, pengalaman mengatakan bahwa jika segala sesuatu dilakukan sesuai dengan petunjuk dalam Code, yaitu dengan memenuhi persyaratan minium dan faktor keamanan, maka dengan sendirinya akan mengurangi kemungkinana terjadinya kecelakaan secara drastis, yang pada gilirannya akan melindungi keselamatan manusia.
Disetiap Code dan Standard yang ada, selalu dicantumkan dengan jelas maksud dan tujuan serta untuk kegiatan apa saja Code dan Standard ini bisa diaplikasikan.
Karena Code dan Standard mengakui bahwa metode yang mereka gunakan adalah metode pendekatan sederhana (simplified approach) untuk setiap permasalahan, maka mereka mendorong para designer yang berpengalaman dan mampu melakukan analisa yang lebih mendalam untuk menggunakan metode mereka.
Hanya saja, metode yang ingin dilakukan haruslah sudah diuji dan paling tidak diakui oleh pihak pemilik Proyek atau Owner.
Lebih jauh lagi, metode yang digunakan, jika lain dari metode yang dianjurkan dalam Code dan Standard, harus juga dilengkapi dengan detail untuk disain, konstruksi, inspeksi, eksaminasi, dan testing sesuai dengan kondisi yang disyaratkan dalam Code dan Standard.
Dengan kata lain, tidaklah mudah untuk meyakinkan client bahwa metode yang kita gunakan tersebut, yang jika berbeda dengan yang tercantum didalam Code, adalah aman dan sudah terjamin.
Dengan demikian, sebenarnya adalah lebih mudah dan aman jika kita menggunakan Code dan Standard yang sudah ada dan terbukti aman digunakan didalam banyak industri.
Namun, sekali lagi, kit aharus menyadari bahwa pada hakekatnya, Code dan Standard adalah sebuah petunjuk secara umum bagi designer untuk melakukan pekerjaan nya dalam mendisain piping system.
Code dan Standard tidaklah memberikan petunjuk yang detail akan sebuah proses disain, juga tidak memberikan instruksi mengenai bagaimana mendisain sesuatu.
Dengan kata lain, Code dan Standard bukanlah sebuah “Handbook”.
Disini yang berperan adalah Designer atau Engineer yang kompeten dan berpengalaman untuk melakukan proses disain dan analisa.
George Antaki, penulis buku berjudul “Piping and Pipeline Engineering. Design, Construction, Maintenance, Integrity, and Repair” menulis bahwa Code dan Standard serta peraturan yang memberikan petunjuk bagi pekerjaan Engineering dapat dibagi dalam empat kategorI, yaitu:
Professional Societies
Trade Associations
Testing and Certification Organization
Standard Developing Organizations
American Society of Mechanical Engineer (ASME)
ASME adalah sebuah organisasi yang anggotanya pada mulanya adalah para Mechanical Engineer yang berada di Amerika Serikat saja.
Namun pada perkembangannya, anggota dari ASME ini mulai menyebar keseluruh dunia. Pada saat ini dipercaya anggota ASME diseluruh dunia sudah mencapai 127,000 anggota.
Tujuan utama dari ASME ini adalah memberikan kepada komunitas Mechanical Engineer suatu kesempatan dan media untuk saling berinteraksi dan saling menukar informasi dibidang keteknikan.
Pelayanan yang diberikan oleh ASME adalah dalam bentuk program yang berkualitas tinggi untuk meningkatkan pengetahuan dalam bentuk pendidkan lanjutan, pengembangan dan pemeliharaan Code dan Standard, riset, konferensi dan publikasi, hubungan dengan pemerintah serta berbagai hal lainnya.
Dalam hal pengembangan Code dan Standards, ASME membentuk lembaga yang bernama ASME Council on Code and Standards. Council tersebut terdiri atas beberapa badan (board) yaitu:
The Board on Pressure Technology: seperti B16 Standardizatiion of Valves, Flanges, Fittings and Gaskets, B31 Code for Pressure Piping, Boiler and Pressure Vessels, Post Construction.
The Board on Nuclear Codes and Standards:
The Board on Safety Codes and Standards:
The Board on Standardization:
The Board of Accreditation, Regostrationand Certification:
The Board on Performance Test Code
Berikut ini ditampilkan ASME Code yang sering digunakan oleh Piping Engineering didalam menjalankan tugasnya, walaupun Code ini juga digunakan oleh disiplin lain, adalah sebagai berikut:(karena kepanjangan, bisa langsung dilihat pada bukunya).
DIarsipkan di bawah:
Buku PPSAdCII

Sunday, October 19, 2008

Kisah Seorang Dermawan

Hendrawan Syahputra, Marketing, Bekasi, East Java.

Minggu, 2008 Oktober 19
DIBALIK KISAH SUKSES PEMILIK PESONA KHAYANGAN & PESONA DEPOK
Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi.

Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya. Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar. Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada di atas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya.

Selain itu para karyawan tetap dan skitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok. Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. "Karna mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.", katanya.

Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. "Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri." Katanya. Prinsip manajemen "Bismillah" itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman, sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begituseterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah.

Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 jut per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan.

Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini. "Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya." Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya.

Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat enanam padi. "Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalaukita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh". Kata Fauzi. Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. "Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial." Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial. "Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol." Kata Fauzi.

" Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia"

Diambil dari email yang dikirimkan oleh seorang teman